Kupang, Lintaskabarkan.id — “Sebuah tragedi yang seharusnya tidak terjadi, sebuah kegalan sistem yang harus segera diperbaiki.”
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengunjungi keluarga korban YBR (10 tahun) di Kampung Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, pada Sabtu,
7 Februari 2026. Keluarga korban yang dikunjungi meliputi: Maria Goreti Te’a (ibu korban), Wilhelmina Nenu (nenek korban), Ardianus Niga dan Aulita F. Mbe’e (kakak korban)
Kunjungan ini merupakan bentuk empati dan tanggung jawab moral pemerintah terhadap tragedi kemanusiaan yang menelan korban. Gubernur Melki Laka Lena juga menyampaikan belasungkawa dan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban.
Tragedi bunuh diri anak 10 tahun SD kelas IV di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena menyoroti beberapa faktor penyebab yang kompleks.
Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), penyebab anak mengakhiri hidup jarang bersifat tunggal, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor, seperti tekanan ekonomi, perundungan, kurangnya akses layanan kesehatan jiwa, dan pola pengasuhan yang tidak memadai.
Faktor Penyebab:
Tekanan Ekonomi: Kemiskinan dan kesulitan ekonomi keluarga dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak.
Perundungan: Pengalaman perundungan atau kekerasan di sekolah atau lingkungan sosial dapat memperparah kondisi psikologis anak.
Kurangnya Akses Layanan Kesehatan Jiwa: Ketersediaan layanan kesehatan jiwa yang terbatas dapat membuat anak-anak tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Pola Pengasuhan: Pola pengasuhan yang tidak memadai dapat menyebabkan anak-anak merasa tidak didukung dan tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan emosi mereka.
Dampaknya pada Anak Kecil di NTT:
Kerentanan Psikologis: Anak-anak di NTT rentan mengalami tekanan psikologis akibat kesulitan ekonomi dan kurangnya akses layanan kesehatan jiwa.
Kehilangan Harapan: Tragedi ini dapat membuat anak-anak kehilangan harapan dan merasa tidak ada jalan keluar dari kesulitan mereka.
Masukan dan Harapan pada Pemerintah:
Peningkatan Akses Layanan Kesehatan Jiwa: Pemerintah harus meningkatkan akses layanan kesehatan jiwa di daerah terpencil, termasuk NTT.
Program Pendidikan Gratis: Pemerintah harus memastikan bahwa pendidikan dasar benar-benar gratis dan inklusif, termasuk pemenuhan perlengkapan sekolah bagi anak dari keluarga rentan.
Dukungan Psikososial: Pemerintah harus menyediakan dukungan psikososial bagi anak-anak yang rentan secara ekonomi dan mental.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Pemerintah harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental anak-anak dan mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan jiwa.
Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk berubah, untuk menjadi lebih peduli dan lebih proaktif dalam melindungi anak-anak kita. Mari kita pastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan aman, sehat, dan bahagia.
Reporter
Yohanes Tafaib .






