Tragedi Kemiskinan di NTT: Sebuah Panggilan untuk Bertindak


Kupang, Lintaskabarkan.id
 — Meninggalnya YBR, seorang siswa kelas IV SDN Rutowaja, akibat tidak memiliki uang Rp 10.000 untuk membeli buku dan pena, adalah sebuah tragedi yang tidak seharusnya terjadi. Kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih menjadi masalah serius di NTT dan bahwa pemerintah, gereja, dan masyarakat belum berhasil menanganinya.

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, telah meminta Gubernur Provinsi NTT untuk membuat Surat Edaran kepada seluruh bupati dan wali kota di wilayah NTT untuk mendata masyarakat yang tergolong Miskin Ekstrim atau desil-1 dan memberikan bantuan. Ini adalah langkah yang tepat, namun perlu diikuti dengan tindakan nyata dan cepat.

Halen salah satu tokoh  perempuan pemerhati anak dan perempuan di kota Kupang dan Andre Goru  ketua   Yayasan Media Flores Perduli  di kota Kupang,  ketika diwawancarai oleh media ini  seputaran kasus  bunuh diri oleh  anak  kecil di  Ngada, kesulitan pengurusan administrasi  Kependudukan  dan kemiskinan ekstrim  di NTT, mereka hampir senada  mengatakan bahwa:   Masalah Administrasi Kependudukan memang masih menjadi penghalang dalam proses pemberian bantuan negara pada warga yang sangat membutuhkan bantuan.

Oleh karena itu, perlu ada perhatian khusus dan tegas dari Pemda NTT untuk segera menuntaskan masalah tersebut sehingga masyarakat bisa  dengan mudah mendapatkan akses bantuan.  Perlu ada  koordinasi dan kerja  bersama kuat dan berkelanjutan  antara pemerintah, gereja, dan masyarakat dalam menangani masalah kemiskinan ekstrim  di NTT.

Baik Halen maupun Andrea  mengharapkan agar  Semua pihak  harus ikut  bertanggung jawab dan mengambil bagian dengan aktif demi  mengatasi kemiskinan ekstrim di NTT dan memastikan bahwa anak-anak seperti YBR tidak lagi menjadi korban. Mari kita bekerja sama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak NTT.

Semoga YBR dapat beristirahat dalam damai dan keluarganya dapat diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi kehilangan ini, kata Halen diakhir percakapan.

Sumber : melihat Indonesia dan ragam literatur serta wawancara.

Reporter 

Yohanes Tafaib

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *